Now Reading
Tjandra Limanjaya: Investasi Sektor Wisata Menurun di Masa Pandemi Covid-19

Tjandra Limanjaya: Investasi Sektor Wisata Menurun di Masa Pandemi Covid-19

Tjandra Limanjaya Investasi Sektor Wisata Menurun di Masa Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 ini berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Tjandra Limanjaya menyebutkan bahwa beberapa sektor paling berdampak adalah sektor pariwisata, ritel, dan manufaktur. Menurutnya, untuk mengatasi pandemi Covid-19 maka dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, baik melalui kebijkan pemerintah maupun kedisiplinan masayrakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pemerintah terus berjuang melawan virus corona dengan berbagai kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah hingga aturan para pekerja untuk work from home (WFH).

Meski berbagai kebijakan terlah dilaksanakan, nyatanya jumlah orang yang terkena wabah ini masih terus bertambah. Data per tanggal 4 Januari 2021 yang dipublikasikan covid19.go.id menunjukkan penambahan jumlah kasus baru mencapai 6.753. Sehingga total kasus yang terkonfirmasi mencapai 772.103

Dengan penambahan tersebut membuat pemerintah harus bekerja ekstra agar penyebaran virus corona tidak meluas. Kebijakan baru untuk memutus mata rantai Covid-19 adalah dengan mewajibkan masyarakat yang menggunakan transportasi umum untuk menunjukkan hasil rapid antigen maupun PCR. Kebijakan tersebut berlaku baik transportasi darat, laut, maupun udara.

Di sisi lain, banyak orang yang terpaksa membatalkan liburan akhir tahunnya karena adanya kebijakan baru tersebut. Hal ini yang berdampak pada tempat wisata yang kembali sepi karena berkurangnya pengunjung.

Dampak buruk juga dirasakan para investor pariwisata. Mereka harus berpikir ulang untuk melakukan investasi di sektor pariwisata. Aturan-aturan yang dibuat pemerintah seperti PSBB tentu dapat menjadi penghambat. Selain itu, jumlah wisatawan di masa Pandemi seperti ini tentu sangat menurun karena masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Tjandra Limanjaya: Dibutuhkan kebijakan baru terkait investasi di tengah pandemi

Tjandra Limanjaya selaku investor properti dan pariwisata di Indonesia mengaku pada tahun 2020 hingga 2021 ini investasi di sektor pariwisata menurun. Hal ini mengingat pandemi Covid-19 belum tahu kapan akan selesai. Pengusaha lebih berhati-hati dalam melakukan investasi karena selain faktor pandemi, pengusaha juga harus mengikuti kebijakan pemerintah mengenai investasi.

Menurut Tjandra Limanjaya, pemerintah telah menargetkan realisasi investasi mencapai Rp 886,1 triliun pada tahun 2020. Namun dengan adanya pandemi ini, investasi di Indonesia melemah dan jauh dari target yang ditetapkan.

Sebelumnya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan target investasi tersebut berdasarkan asumsi apabila pandemi Covid-19 selesai pada bulan Mei 2020. Nyatanya, wabah ini masih belum selesai bahkan jumlah korban terus bertambah.

Tjandra Limanjaya mengingatkan bahwa pemerintah harus lebih ekstra dalam menangani masalah pandemi. Tidak hanya sektor kesehatan dan ekonomi, namun juga dapat meyakinkan para pengusaha agar tetap mau melakukan investasi di Indonesia.

Tjandra Limanjaya: Investasi harus terus berjalan di tengah pandemi

Penanganan yang serius dan adanya aturan yang dapat membuka peluang investasi berjalan lancar maka ini dapat menarik para investor. Hal ini yang mulai dipikirkan oleh banyak negara bahwa investasi harus terus berjalan meski di tengah pandemi. Menurut Tjandra Limanjaya, dengan adanya investasi maka dapat membantu pertumbuhan ekonomi negara.

Selain itu, investasi di sektor pariwisata juga membuka lapangan kera baru. Hal ini tentu penting mengingat dampak dari pandemi Covid-19 membuat banyak karyawan terkena PHK sehingga pengangguran meningkat.

Investasi di sektor pariwisata juga dalam jangka panjang dapat memajukan negara. Tjandra Limanjaya menyebutkan bahwa apabila investasi domestik berperan besar, maka perekonomian negara untuk jangka panjang dapat terjamin.

Selaku pengusaha dan investor yang telah berpengalaman, Tandra Limanjaya menyadari bahwa dalam jangka panjang keuntungan besar akan didapat dan hal ini harus disadari oleh para investor domestik. Investor haru lebih berani dan mengambil peran besar dalam negara sendiri. Terlebih Indonesia Timur merupakan wilayah dengan potensi pariwisata yang sangat bisa dikembangkan untuk menjadi destinasi dunia.

Tjandra Limanjaya: Indonesia memiliki potensi pariwisata dunia

Potensi pariwisata Indonesia diakui Tjandra Limanjaya dapat dikembangkan dan dapat menjadi destinasi favorit dunia. Sebelumnya, Bali sudah banyak menjadi favorit wisatawan asing. Kemudian, pulau Lombok dan sekitarnya mulai banyak dikenal dunia.

Selain memiliki keindahan alam yang dapat dikembangkan untuk destinasi dunia, Indonesia juga diuntungkan dengan suku dan budaya yang dapat menarik wisatawan. Ini yang harus dimanfaatkan para pengusaha untuk melakukan investasi di sektor pariwisata.

Pandemi Covid-19 menuntut orang untuk melakukan protokol kesehatan dan harus beradaptasi pada era New Normal. Kondisi New Normal juga harus didukung dengan fasilitas publik yang lengkap dan sesuai dengan protokol kesehatan.

Untuk sektor pariwisata, para pengusaha dapat melakukan investasi di bidang transportasi yang sesuai dengan protokol kesehatan. Kemudian dapat membangun rumah sakit dengan standar internasional, mengingat target pengunjung adalah wisatawan asing. Fasilitas publik yang lengkap tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Tjandra Limanjaya meyakini bahwa pandemi Covid-19 akan segera berakhir dan perekonomian Indonesia dapat kembali naik. Hal tersebut tentunya harus dilakukan bersama-sama baik oleh pemerintah, stake holder, dan masyarakat Indonesia sendiri agar tetap patuh terhadap protokol kesehatan.

© 2019 Denotasi | All Rights Reserved.

Scroll To Top